Virus Melanda di Bulan Ramadhan

77
0
BERBAGI
Oleh : Kurnaidi Sekretaris SMSI Sumsel

SUDAH empat hari umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun 2020 ini. Namun ibadah puasa kali ini agak berbeda dari tahun – tahun sebelumnya. Kegembiraan masyarakat, khususnya masyarakat indonesia berubah menjadi keprihatinan dan kecemasan akibat mewabahnya virus corona.

Masyarakat, mulai dari sabang sampai maroke yang biasanya pada bulan suci yang penuh berkah ini mengisi berbagai kegiatan ibadah dengan majelis taklim, safari dakwah, iftar bersama, tarawih dan tadarusan, kini harus jeda karena masjid masjid masjid ditutup.

Selain itu, kebiasaan umat islam pada bulan yang penuh kemuliaan ini yang identik dengan aktivitas sosial antar umat muslim. Seperti kunjungan ke panti, pulang mudik, kegiatan buka bersama, shalat tarawih berjamaah harus ditiadakan. Bahkan, berbarengan dengan itu, kita menyaksikan kemunculan penomena baru yang menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat.

Kehadiran bulan suci Ramadhan dalam situasi seperti saat ini memang cukup menantang kita untuk melakukan refleksi. Dan memang seperti itulah pelajaran yang kita peroleh dari puasa Ramadhan. Bahwa Ramadhan menjadi momentum untuk kita bermuhasabah terhadap diri dan lingkungan di sekitar kita.

Bancana Covid-19 saat ini belum bisa tertangani secara baik, bahkan mobilitas penyebarannya masih diperkirakan terus meningkat. Jutaan kasus Covid 19 yang terkena dampak kematian terus bertambah, negara menjadi goncang sementara rakyat menjadi gelora akibat serangan Virus ini yang tidak pandang bulu Negara kecil dan Negara besar semua terserang Korona.

Korban kematian akibat dari waba Virus ini sangat menyedihkan mengapa tidak pihak keluarga hanya bisa mendengar kabar duka saja dan untuk melihat zenazah itu tidak bisa.

Meskipun demikian, iman sebagai landasan visi puasa tidak akan memadai bila tidak diiringi dengan misi takwa sebagai instrumennya. Taqwa meniscayakan akal sebagai pengukur jalannya visi ibadah puasa. Sebagai misi ibadah puasa, takwa adalah nalar untuk memberi perspektif bagaimana setiap dimensi kehidupan bisa kita jalani secara baik sesuai dengan tuntunan iman.

Makan yang teratur saat berbuka puasa dengan memilih makanan yang halal, baik lagi bergizi dan tidak berlebihan merupakan proses edukasi jiwa untuk membiasakan hidup sederhana dan tidak tamak dan juga tidak boros. Sementara pada dimensi yang luas, puasa juga mengedukasi kita untuk membangun lingkungan sosial yang steril dari kotoran, kekumuhaan, dan kerumunan bakteri.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan Shaum Ramadhan ini sebagai sarana untuk memantapkan kesabaran kita dalam menghadapi virus Corona ini sehingga kita tetap tenang dan optimis bahwa wabah ini dapat berakhir sebagiaman optimisme kita menanti datangnya waktu berbuka saat kita sedang lapar dan dahaga ketika kita sedang berpuasa.

Akan tetapi ada hikmah di balik situasi pandemi ini. Apa itu? Yakni umat muslim bisa punya banyak waktu untuk menjalaknan amalan baik seperti membaca Al-Qur’an. Hal tersebut sering abai lantaran masyarakat disibukan dengan banyak aktifitas duniawi yang dilakukan di bulan puasa. Namun kali ini tidak, karena masyarakat dianjurkan untuk tetap dirumah saja. Dengan demikian kita menjadi fokus menjalankan ibadah puasa dan kita juga dapat terhindar dari pandangan – pandangan di luar rumah yang akan mengurangi nilai ibadah puasa kita. (****)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here