Akibat Aliran Air Tertutup Gedung, SDN 3 Palembang Kebanjiran

254
0
BERBAGI

PALEMBANG- Akibat air tidak bisa mengalir karena hujan datang secara tiba-tiba menjadikan beberapa kelas dan ruang guru di SD Negeri 3 Palembang yang beralamat di Jln Putri Rambut Selako ikut terendam, tidak mengalirnya air  hujan ini diduga akibat daerah sekitar sekolah ditutupi Gedung Perumahan Walet, belum lagi ada sebagian bangunan SD terletak di daerah rawa.

Ditemui saat sekolah kebanjiran, Kepala SD Negeri 3 Palembang Marlena Rachman, S. Pd mengatakan dirinya sudah berulang kali menghimbau kepada pihak perumahan sekitar untuk tidak menutup akses aliran air. “Sebab posisi sekolah sendiri berada di tengah rawa-rawa dan juga padat pemukiman penduduk, apalagi aliran air ini banyak dijadikan pembuangan limbah tahu, khawatir kita kalau semua aliran air di tutup otomatis sekolah tidak bisa mengalirkan air, tentu saja akan menjadikan SD Negeri 3 Palembang selalu kebanjiran,” katanya.

“Setiap hujan turun sudah dipastikan sekolah ini akan banjir masuk ke kelas dan ruang lainnya. Selain itu juga apabila banjir beberapa minggu ini, orang tua siswa khusus kelas 1 harus menggotong anaknya, memang ada sebagian jalan sudah ditinggikan tapi ada sebagian lagi masih rendah. Kejadian banjir di sekolahnya sudah hampir dua bulan air tergenang, baik air dijalan mau masuk lorong maupun dari belakang sekolah, makanya bingung akses kiri kanan sekolah banjir,” jelasnya.

Sekolah berharap pemerintah dan masyarakat bisa ikut menolong dalam penyelesaian masalah banjir, sebab air ini tidak bisa mengalir karena ditutup gedung perumahan walet. “Ya, kami sendiri kasihan kepada siswa/i yang mau berangkat ke sekolah, akibat sekolah terendam sudah banyak yang kecebur, saya sendiri perna tercebur sampai semua laporan basah, bahkan siswa dan guru banyak tercebur, kami minta jalan keluar,” ungkapnya.

Pada hari Kamis (8/2) ini saja, ada 3 guru tercebur lantaran baju yang dipakai bau limbah dan tidak bisa dibersihkan dengan air bersih, sebab air disini bercampur dengan limbah tahu berwarna hitam pekat, mau tidak mau mereka harus pulang kerumah dan mengganti salinan.

“Akibat air hujan dan limbah tahu masuk ke ruang kelas, biarpun aktivitas KBM tetap dilaksanakan, namun siswa tetap tak bisa konsentrasi menerima pelajaran, karena air tersebut membasahi kaki mereka yang sekali-sekali menyebabkan gatal ini,”pungkasnya. (Hasan Basri).

.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here